Category Archives: agroindustri

Pendekatan parsial VS Pendekatan sistem

Analisa sistem, mata kuliah yang  diambil  disemester lima memberikan suatu pola pikir yang baru dan pola pikir tersebut sangat bermanfaat untuk menganalisa sesuatu ataupun dalam penganmbilan keputusan. Dalam analisa sistem kita diajarkan bagai mana berpikir secara sistem bukan secara parsial.

Pendekatan parsial biasanya memiliki kerangka berpikir bagaimana menyelesaikan masalah dengan melihat penyebab masalah tersebut dan tidak melihat suatu masalah secara sistem (secara keseluruhan dan menganalisa komponen yang ada). Pendekatan parsial biasanya sering dilakukan oleh orang-orang pemerintahan. Contohnya mereka sering membantu UKM (Usaha Kecil Menengah) dengan memberikan modal usaha karena menurut mereka modal adalah masalah utama dalam UKM tapi mereka tidak pernah menganalisa semua pelaku yang ada.

Berbeda dengan kerangka berpikir sistem. Pendekatan sistem sering melihat sesuatu sebagai sistem dengan menganalisa komponen-komponen yang ada dalam sistem menganalisa kebutuhan setiap komponen dan menganalisa keterkaitan antara kebutuhan tersebut apakah saling mendukung atau berlawanan.

Seperti contoh UKM diatas, apabila melakukan dengan pendekatan sistem, yang terlebih dahulu kita melihat komponen yang ada dalam sistem UKM tersebut contohnya ada pengusaha, ada konsumen, ada bahan baku, ada pemerintah, pekerja, lembaga keuangn dll (intinya yang berpengaruh terhadap UKM). Dari pelaku tersebut dianalisa kebutuhannya dan keterkaitan antar kebutuhannya. Dari situ dapat dilihat bahwa biasanya UKM tidak hanya membutuhkan modal tetapi juga ketersediaan pasar, bahan baku dan lainya. Kalau hanya cuma modal tapi tanpa pasar dan bahan baku UKM tidak akan bisa berkembang.

Sekilas perbedaan pemikiran parsial dan pemikiran sistem seperti diatas. Tinggal bagai mana cara mengembangkannya dan memjadikannya panduan dalam pennyelesaian masalah.

Iklan

kekuatan konsumen

Kalau boleh dibilang, konsumen itu adalah pengendali ya…bisa juga disamakan dengan yerk tapi dalam hal yang berbeda. Yerk harus masuk ke otak manusia untuk menjadi pengendali tapi konsumen cukup mengendalikan dengan keinginan.

Coba kita tengok suatu sistem dalam industri. Industri merupakan suatu sistem yang mengelola input (bahan baku dsb) menjadi output dengan tahapan proses didalamnya. Mengapa mereka mengolah dan menghasilkan?ya..tentu saja karena konsumen. Sekarang konsumen telah dibidik oleh para produsen untuk menjadi pelanggan dan pelanggan adalah raja.

Semua aktivitas perusahaan pasti mengacu ke konsumen. Perancangan produk harus sesuai dengan keinginan konsumen, pemasaran harus sesuai pada segmen konsumen yang dituju, riset pasar dilakukan untuk mengamati perilaku atau keinginan konsumen, optimasi proses pasti demi untuk memenuhi keinginan konsumen dan kegiatan lainya pasti mengacu ke konsumen. Ya…walaupun begitu, perusahaan melakukan itu semua juga karena ingin dapat profit yang sebesar-besarnya. intinya pasti ada timbal balik antar keduanya.

Sebenarnya, kalau para konsumen ingin mem”bangkrutkan” perusahaan gampang. ya…jangan beli aja barangnya toh barang subtitusi atau pesaingnya sekarang banyak. Atau kalau dikecewakan dalam pelayanan, tinggal bilang aja ke teman2 yang lain..he..he…

Tentunya tidak segampang itu, karena antara perusahaan dan konsumen pasti ada simbiosis mutualismenya atau ada timbal baliknya. jadi intinya sebenarnya konsumen itu punya kekuatan dan punya hak untuk dilindungi dan dipuaskan 🙂

Menuju Supply Chain Ideal Dengan Teknologi RFID

Supply Chain Management (SCM) merupakan mata rantai dimana produk dari berbagai pemasok kemudian masuk ke  pabrik, grosir, distributor, sampai ketangan konsumen. Mata rantai tersebut pasti akan berkembang seiring berkembangnya teknologi untuk menuju supply chain ideal dengan tujuan akhir adalah meningkatkan kepuasan konsumen serta mendapatkan efisiensi dan profit yang tinggi. Gambaran dari suplly chain ideal adalah dimana produk-produk yang dijualnya selalu tersedia kapan saja konsumen membutuhkannya, dimana pada suatu toko atau perusahaan tidak akan ada barang yang kadaluarsa atau mustahil terdapat barang kadaluarsa, penguntilan barang mudah terdeteksi, penghitungan sistem inventaris cocok dengan hitungan inventaris barang secara fisik, proses bisnis dengan mitra dagang begitu akurat dan terotomatisasi, keberadaan, transparansi dan rantai pasok (supply chain) barang dibangun berdasarkan informasi supply dan demand secara real-time serta penghematan inventori yang besar. Atau dengan kata lain, supply chain ideal menyinkronkan aktivitas di sepanjang rantai pasok, mulai dari titik penjualan merunut ke belakang sampai penyediaan bahan mentah. Jika ini terjadi, terciptalah suatu demand driven and networked economy yang sempurna

 

Tantangan menuju Supply Chain ideal tidak akan terlepas dari penggunaan teknologi. Penyediaan fasilitas gudang dan pabrik serta aktivitas distribusi dan melakukan perkiran permintaan, pemesanan bahan baku, pengendalian persediaan, penjadwalan produksi dan fungsi-fungsi lain yang terkait dengan suplly chain pasti memerlukan teknologi agar bisa dilakukan dengan lebih baik

 

Salah satu teknologi yang berkembang untuk meningkatkan SCM adalah teknologi RFID (Radio Frequency identification) yang merupakan metode identifikasi dan komunikasi dengan ID menggunakan gelombang radio. Teknologi RFID bergantung pada transmisi data nirkabel melalui medan elektro magnetik. Jantung teknologi ini adalah perangkat yang dinamakan RFID tag: sebuah label identifikasi berisi chip yang dapat diprogram, dilengkapi dengan sebuah antena mini. RFID tag bisa dibaca dengan sebuah reader yang dikendalikan komputer tanpa harus membutuhkan direct line-of-sight seperti halnya pembaca barcode. Jangkauan reader ini bisa mencapai satu meter. Supaya informasi yang tersimpan di chip bisa dibaca, reader memancarkan medan frekuensi elektromagnetik yang diterima oleh antena mini di RFID tag. Melalui hubungan elektronis ini, data yang tersimpan bisa dibaca, diproses dan diedit. Tenaga chip terintegrasi ini dipasok melalui medan frekuensi radio yang dipancarkan oleh reader, sehingga RFID tidak membutuhkan sumber tenaga yang terpisah. sebuah tag RFID memiliki electronic product code (EPC) berisi identitas produk tersebut, mulai dari nomor seri, tanggal produksi, lokasi manufaktur, bahkan tanggal kadaluarsa. EPC adalah identifikasi produk generasi baru, mirip dengan UPC ( Universal Product Code ) atau barcode . Seperti halnya barcode , EPC terdiri dari angka-angka yang menunjukkan kode produsen, produk, versi dan nomor seri. Namun, EPC memiliki digit ekstra untuk mengidentifikasi item yang unik. Ukuran bit EPC yang mencapai 96-bit memungkinkannya secara unik mengidentifikasi lebih dari 268 juta produsen, masing-masing memiliki lebih dari satu juta jenis produk, sementara sisanya masih mencukupi untuk melabel seluruh produk individualnya. Informasi EPC inilah yang tersimpan di dalam chip RFID.  Dengan adanya RFID ini memungkinkan perusahaan melacak masing-masing barang secara individu sepanjang value chain, meningkatkan efisiensi masing-masing proses, memperbaiki utilisasi aset, meningkatkan akurasi forecast, dan meningkatkan fleksibilitas perusahaan dalam merespon perubahan kondisi supply dan demand. Berbeda dengan barcode yang digunakan sekarang. Barcode memang bisa menyediakan identifikasi suatu produk, namun tidak secara individu, dan masih membutuhkan intervensi manusua dalam pengambilan datanya

 

Contoh perusahaan yang telah mengimplementasikan RFID adalag GILETTE memberi label RFID pada setiap unit produk alat cukurnya, yang kemudian ditempatkan ke dalam rak pajang pintar (smart shelves). Alat pemindai yang ada di rak akan terus memantau jumlah produk yang dipajang, sehingga ketika jumlah produk tinggal sedikit, rak akan mengirim peringatan kepada petugas supermarket untuk segera mengisinya. Selain itu, beberapa produk kosmetik dan makanan juga diberi label RFID untuk memberikan data inventaris secara real time dan notifikasi ketika barang sudah kadaluarsa. Troli belanja pun tidak luput diberikan label RFID. Di pintu supermarket terpasang pemindai RFID, sehingga jumlah troli yang keluar masuk bisa terpantau manajer supermarket. Jika ada peningkatan lalu lintas troli, jumlah kasir yang dibuka pun bisa ditambah, sehingga mengurangi antrian di kasir

 

Banyak kalangan yang menaruh harapan terhadap teknologi RFID ini. Akan tetapi teknologi RFID ini bukan merupakan teknologi yang mudah untuk diimplementasikan karena banyak yang khawatir mengenai masalah biaya dan return of investment –nya karena tingginya biaya investasi yang akan dikelurkan dan juga masih dihadang masalah teknis seperti masih adanya masalah yang terkait dengan pembacaan tag RFID pada produk yang terbuat dari logam atau cair dengan tingkat pembacaan masih relatif rendah, serta masalah penempatan tag RFID dan reader untuk mendapatkan pembacaan data yang paling akurat. Untuk itu teknologi RFID ini perlu dilakukan pengembangan menuju kesempurnaan agar dapat menunjang kelangsungan SCM yang ideal dimasa yang akan datang

Referensi :     ebizzasia.com. Menghadapi Tantangan RFID
Dr. Ir Suhono Harso Supangkat, M.Sc. Hand out Penggunaan Teknologi
RFID pada Supply Chain

 

Dompu dan Sedikit Analisanya

Dompu merupakan sebuah kabupaten di NTB yang terdapat di pulau sumbawa yang terletak disebelah timur pulau lombok. Banyak cerita dan legenda yang mengisahkan kenapa kabupaten tersebut bernama Dompu tapi sayang sekarang kita tidak membicarakan hal itu.

Kabupaten dompu berbatasan dengan :
utara : Kab Bima
Timur : Kab Bima
Selatan : teluk cempi dan laut indonesia
Barat : Kab Sumbawa dan Teluk Saleh
batas-batas tersebut saya analisa berdasarkan peta Dompu. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa Dompu berada antara Kab.Bima dan Kab.Sumbawa. Sebenarnya banyak hal yang dapat ditemukan di daerah yang berlambang menjangan ini “pokoke mbotolah..”. Tanah yang subur, hutan yang lumayan lebat, dan laut yang menyediakan banyak ikan-ikan segar setiap hari merupakan potensi utama sumberdaya alam yang menopang kehidupan Dompu.

Kita sekarang tidak akan berbicara politik coz ane nggak suka ama politik. Mari kita bicara tentang sumberdaya dan potensi yang dapat mengembangkan Dompu.

Dilihat dari sumberdaya alam, Dompu dapat dibilang kaya. Masyarakat setiap hari dapat mengkonsumsi ikan segar yang umumnya datang dari Kempo, sayuran segar dari kebun atau pekarangan rumah sendiri, dan rasa kekeluargaan yang kentalmenjadikan masyarakat dompu walupun nggak punya duit tapi masih bisa makan. ok kan..

Dikaji dari sumberdaya manusia, Dompu bisa dikatakan masih kurang atau lebih tepat lagi masih dalam tahap perkembangan karena sekarang banyak calon penerus daerah yang masih merantau untuk menimba ilmu dan tidak jarang dari mereka mendapat prestasi yang baik. Mudah-mudahan para putra daerah tersebut kembali ke Dompu untuk membangun Dompu dan doakan saja para generasi tua menerima dan membimbing mereka jangan sampai seperti diiklan “kalau belum tua belum bisa disuruh ngomong” atau “kalau belum tua belum bisa dipercaya” .

Sebenarnya kalau dikaji dari bidang agroindustri (bidang yang saya perdalami sekarang), Dompu bisa lebih maju apabila Dompu mau lebih serius mengembangkan sistem agroindustri berbasis mikro, kecil dan menengah. Agroindustri merupakan industri yang berbasis pada pertanian dengan mengelola hasil pertanian tersebut sehingga memiliki nilai tambah dan nilai jual dan apabila dikelola dengan baik akan meningkatkan semua sistem yang ada seperti pertanian, perikanan, perdagangan industri dan lain-lain. Agroindustri tidak hanya berbasis hasil tanaman. Pertanian itu bersifat luas bisa berupa perikanan, peternakan dan kehutanan semua itu masuk kedalam sistem pertanian dan dapat menjadi bahan baku agroindustri.

untuk urusan bahan baku, Dompu memiliki banyak sumberdaya yang bisa dimanfaatkan seperti hasil peternakan, pertanian, hasil laut dan hasil hutan. Yang menjadi kendala agroindustri di Dompu adalah letak wilayah Dompu serta infrastruktur yang masih belum mendukung.Infrastruktur sangat penting bagi perkembangan agroindustri. Hal ini berhubungan dengan rantai pasok dan biaya yang akan dikeluarkan untuk transportasi baik transportasi pemasaran maupun bakan baku. Untuk menjangkau ibu kota propinsi dari Kab.Dompu memerlukan waktu 12 jam dengan jalan yang berbukit dan bergunung-gunung. Walau letak kabupaten Dompu berada diantara Bima dan Sumbawa tetapi perlu sarana transportasi yang baik untuk menjangkau wilayah tersebut sebagai wilayah pemasaran atau wilayah pemasok.

Sarana transportasi yang ada sekarang harus lebih ditingkatkan agar dapat melakukan pemasaran dan penyediaan produk dengan cepat dan agar tidak menambah biaya produksi yang akam mempermahal produk.

kendala yang ada tidak hanya pada sarana dan infastruktus transportasi tetapi juga pada sumberdaya manusia. Sumberdaya manusia yang ada dirasa masih kurang dan juga minat para pemuda dan pelajar Dompu terhadap agroindustri, pertanian, kehutanan, peternakan serta kelautan masih belum meningkat. Dalam pengelolaan agroindustri tidak hanya dikaji dari sektor pertanian tetapi serangkaian dari proses seperti pengadaan bahan baku, penyimpanan, proses produksi, pemasara, rantai pasok dan masih banyak lagi sangat memerlukan tenaga kerja yang berpendidikan dan berilmu.

Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan perbaikan infrastruktur transportasi dan berperan serta dapam peningkatan pertanian, merangsang tumbuhnya usaha keci dan menengah dengan memberikan kredit dengan bunga rendah pada pengusaha kecil serta menyediakan pendidikan yang bagus serta beasiswa bagi mahasiswa Dompu yang berprestasi agar mereka memiliki kepekaan dan tanggungjawab yang tinggi terhadap daerah.