Dampak Kenaikan Harga Pupuk Terhadap Usaha Mikro Berbasis Agroindustri

Usaha mikro tergolong jenis Usaha marginal yang ditandai dengan penggunaan teknologi yang relatif sederhana, tingkat modal dan akses terhadap kredit yang rendah, serta cenderung berorientasi pada pasar lokal. Namun demikian sejumlah kajian di beberapa negara menunjukkan bahwa usaha mikro berperanan cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi, menyerap tenaga kerja melalui penciptaan lapangan pekerjaan, menyediakan barang dan jasa dengan harga murah, serta mengatasi masalah kemiskinan. Disamping itu, usaha mikro juga merupakan salah satu komponen utama pengembangan ekonomi lokal, dan berpotensi meningkatkan posisi tawar (bargaining position) perempuan dalam keluarga.
Di Indonesia, usaha mikro dan usaha kecil telah memberikan kontribusi yang signifikan kepada perekonomian nasional. Sebagai gambaran, pada tahun 2000 tenaga kerja yang diserap industri rumah tangga (salah satu bagian dari usaha mikro sektor perindustrian) dan industri kecil mencapai 65,38% dari tenaga kerja yang diserap sektor perindustrian nasional. Pada tahun yang sama sumbangan usaha kecil terhadap total PDB mencapai 39,93% (BPS, 2001).
Usaha mikro bersama usaha kecil juga mampu bertahan menghadapi goncangan krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997. Indikatornya antara lain, serapan tenaga kerja antara kurun waktu sebelum krisis dan ketika krisis berlangsung tidak banyak berubah, dan pengaruh negatif krisis terhadap pertumbuhan jumlah usaha mikro dan kecil lebih rendah dibanding pengaruhnya pada usaha menengah dan besar. Lebih jauh lagi, usaha mikro dan usaha kecil telah berperan sebagai penyangga (buffer) dan katup pengaman (safety valve) dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, serta menyediakan alternative lapangan pekerjaan bagi para pekerja sektor formal yang terkena dampak krisis.
Salah satu bagian usaha mikro yaitu sektor industri pertanian yang memusatkan usahanya pada pengolahan hasil-hasil pertanian menjadi produk yang memiliki nilai tambah untuk kesejahteran masyarakat.
Industri pertanian tidak pernah lepas dari proses produksi yang memerlukan bahan baku (input) sebagai bahan yang diolah menjadi berbagai macam produk (output) yang berasal dari produk pertanian. Apabila terjadi masalah dalam sektor pertanian, dapat mengakibatkan dampak negatif pula terhadap industri pertanian seperti kurangnya pasokan bahan baku yang menghambat serangkaian proses produksi.
Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh suatu masalah pada sektor pertanian yang berkaitan dengan harga pupuk. Harga pupuk tahun 2006 lalu terjadi kenaikan yang berdampak pada kenaikan biaya usaha tani meliputi beberapa komponen penting yang tidak bisa dihindari, yakni bibit, pupuk, pestisida, tenaga kerja, sewa traktor, dan sewa lahan. Keadaan itu diperparah dengan kelangkaan pupuk yang terjadi menjelang kenaikan harga pupuk.
Kanaikan harga pupuk terjadi dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dalam hal pasokan gas yang cenderung tidak berpihak pada industri dalam negeri. Memang ekspor gas mendatangkan devisa yang cukup besar, namun risiko yang diambil pun tidak kecil yakni bangkrutnya dua pabrik pupuk, Asean Aceh Fertilizer dan Pupuk Iskandar Muda. Kenaikan harga pupuk tidak hanya dipengaruhi oleh pasokan gas tetapi juga dipengaruhi oleh kanaikan bahan bakar minyak (BBM). Padahal keberadaan industri pupuk di dalam negeri memiliki peranan strategis dalam menunjang program pembangunan perekonomian Indonesia. Secara nasional keberadaan industri pupuk mampu memberikan andil yang cukup besar tidak saja bagi perkembangan sector pertanian khususnya tanaman pangan, namun juga memberikan dampak bagi perkembangan di sektor perkebunan, industri kimia, industri pertanian dan bidang jasa lain.
Kebutuhan pupuk dalam negeri mengalami peningkatan sekitar 4,6 persen per tahun, seiring dengan masifnya program intensifikasi dan peningkatan produktivitas komoditas pangan yang dicanangkan pemerintah (Pusri, 2000). Permintaan pupuk yang terus meningkat menuntut peningkatan volume produksi pupuk dan penyesuaian kebijakan perdagangan pupuk dalam upaya menjaga kontinuitas pasokan pupuk dalam negeri.
Kenaikan harga pupuk dapat meningkatkan biaya usaha tani. Dengan biaya usaha tani yang semakin meningkat dapat menurunkan produktivitas petani untuk menghasilkan produk pertanian sehingga pasokan untuk bahan baku industri menurun serta harga produk pertanian tersebut pasti meningkat untuk menutupi biaya usaha tani yang dikeluarkan oleh para petani dalam proses produksi. Hal ini dapat berpengaruh pada kenaikan biaya produksi perusahaan karena input yang diperlukan untuk memproduksi barang mengalami kenaikan harga. Apa bila suatu input mengalami perubahan akan berdampak pada perubahan fungsi produksi yaitu jumlah maksimum output yang dapat dihasilkan dari pemakaian sejumlah input. Jika biaya yang diperlukan untuk mengadakan input tinggi maka harga barang (output) yang akan dijualpun akan tinggi pula.
Harga produk yang tinggi mengakibatkan penurunan daya saing karena konsumen cenderung membeli barang yang harganya murah. Dengan harga produk yang tinggi, konsumen akan mencari alternatif produk yang lain karena konsumen cenderung mencari produk lain yang lebih murah untuk menyeimbangkan pola konsumsinya dengan pendapatan yang meraka miliki sehingga jumlah permintaan produk dengan harga tinggi akan semakin menurun sehingga menyebabkan kerugian bagi pihak perusahaan dan akhirnya industri tersebut kalah bersaing lalu mati.
Dengan adanya kenaikan bahan baku akibat kenaikan pupuk menunut perusahaan sebagai pelaku ekonomi yang bertanggung jawab menghasilkan barang dan jasa harus menentukan kombinasi input-input yang akan dipakai untuk menghasilkan barang secara maksimal. Untuk menghasilkan jumlah output tertentu, perusahaan harus menentukan kombinasi input yang sesuai. Sebagai alternative perusahaan dapat menambah jam kerja karyawan dan memaksimalkan kerja peralatan produksi untuk menghsasilkan produktivitas dan efisiensi yang tinggi dari bahan baku yang ada.
Tetapi dalam agroindustri yang berskala mikro atau kecil, kombinasi input sangat sulit dilakukan karena modal yang dimiliki sangat kecil dan peralatan produksi yang digunakan masih sederhana sehingga sulit bagi industri kecil mencari alternative untuk mensiasati tingginya biaya produksi karena naiknya harga bahan baku.
Apabila industri mikro tidak dapat bertahan karena persoalan bahan baku yang diakibatkan naiknya harga pupuk maka akan terdapat banyak pengangguran yang tercipta dan dapat mengakibatkan menurunnya tingkat ekonomi nasional.[conandole]

Iklan

One response to “Dampak Kenaikan Harga Pupuk Terhadap Usaha Mikro Berbasis Agroindustri

  1. mari hidupkan agroindustri Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s