Dole’s words

Tambora Vs Vesuvius

Oktober 25, 2007 · 22 Tanggapan

Taukah anda tentang ledakan gunung Vesuvius yang terjadi pada 79 m.. ?. letusan gunung tersebut meneggelamkan suatu kota yang ada di romawai  yang bernama pompeii serlama 1600 tahun. Dari informasi yang saya dapat dari vcd harunyahya, disitu dikatakan bahwa letusan gunung tersebut membunuh seketika orang-orang di kota pompeii, ini di buktikan dari temuan mayat orang yang lagi makan di meja makan bersama keluarganya dan banyak lagi bukti lain.

Ternyata tidak hanya vesuvius yang memiliki letusan yang dahsyat, di Dompu pun pernah terjadi letusan gunung yang sangat dahsyat yang bernama gunung Tambora. Berikut foto gunung tambora….tambora 

Pada tahun 1815, gunung tambora mengalami letusan dahsyat, gemuruh yang dihasilkan gunung tambora terdengar sampai makasar, Batavia, Ternate dan sampai Sumatra yang jaraknya lebih dari 2600 km dari Tambora. Letusan menimbulkan gempa vulkanik lebih kurang lebih 7 SR.

Akibat letusan Tambora antara lain Tsunami besar menyerang pantai beberapa pulau di Indonesia pada tanggal 10 April, dengan ketinggian diatas 4 m di Aanggar pada pukul 10:00 malam. Tsunami setinggi 1-2 m dikaoirjab terjadi di Besuki, Jawa Timur sebelum tengah malam dan tsunami setinggi 2 m terjadi di Maluku. Tinggi asap letusan mencapai stratosfer, dengan ketinggian lebih dari 43 km.[3] Partikel abu jatuh 1 sampai 2 minggu setelah letusan, tetapi terdapat partikel abu yang tetap berada di atmosfer bumi selama beberapa bulan sampai beberapa tahun pada ketinggian 10-30 km. Angin bujur menyebarkan partikel tersebut di sekeliling dunia, membuat terjadinya fenomena. Matahari terbenam yang berwarna dan senja terlihat di London, Inggris diantara tangal 28 Juni dan 2 Juli 1815 dan 3 September dan 7 Oktober 1815. Pancaran cahaya langit senja muncul berwarna orange atau merah didekat ufuk langit dan ungu atau merah muda diatas.

Jumlah perkiraan kematian bervariasi, tergantung dari sumber yang ada. Zollinger (1855) memperkirakan 10.000 orang meninggal karena aliran piroklastik. Di pulau Sumbawa, terdapat 38.000 kematian karena kelaparan, dan 10.000 lainnya karena penyakit dan kelaparan di pulau Lombok. Petroeschevsky (1949) memperkirakan sekitar 48.000 dan 44.000 orang terbunuh di Sumbawa dan Lombok.

Letusan gunung ini juga di perkirakan mengubur kesultanan kecil yang ada di kaki gunung tambora.

Letusan gunung tambora sangat dahsyat jauh melampauhi letusan gunung vesuvius. Kalau dalam harun yahya, letusan Vesusius dikatakan sebagai azab dari kelakukan orang-orang romawi sehingga mengubur hidup-hidup orang di kota Pomeii, Jadi kalau di Dompu karna apa?????Apa kah melebihi dari kelakuan orang2 di Romawi……kayaknya harun yahya harus survei ke Tambora juga.

Kategori: dompu

22 tanggapan so far ↓

  • Shavaat // Oktober 25, 2007 pada 4:35 pm | Balas

    The greatest explosive in the world. Kabarx tinggi tambora sblm mletus 4 rb-an meter. Skrng tgl 2800 m. Gunung itu g meletus tp trpotong

  • Black_Claw // Oktober 25, 2007 pada 8:17 pm | Balas

    Azab untuk orang dompu yang kalo sudah sekolah tinggi gak balik, jadi mending dibikin supaya gak ada tempat baliknya saja.

  • conandole // Oktober 26, 2007 pada 7:58 am | Balas

    ho..ho..ho…
    masak si blek..ane jadi taciut..

  • Yari NK // Oktober 26, 2007 pada 2:01 pm | Balas

    Ya.. ya…ya..ya… Letusan gunung Tambora memang salah satu ledakan gunung api yang paling dahsyat dalam sejarah dunia. Energi yang dilepaskan oleh letusan gunung ini adalah 4x energi yang dilepaskan pada saat ledakan gunung krakatau 1883.
    Akibat letusan gunung ini juga pada tahun 1816 (setahun setelah terjadi ledakan), menagkibatkan di Amerika bagian timur disebut dengan The Year without a Summer atau tahun tanpa musim panas, karena akibat abu gunung tambora masih berputar berkeliling atmosfir menyebabkan penurunan temperatur di beberapa wilayah bagian di Amerika bagian Timur sehingga pada tahun itu di musim panaspun turun salju!
    Juga yang menarik untuk dicermati adalah ketika Pulau Jawa tahun 1815 masih diduduki Inggris, ketika itu Sir Thomas Stamford Raffles masih berada di Yogyakarta, menulis dalam memoirnya:

    The first explosions were heard on this Island in the evening of the 5th of April, they were noticed in every quarter, and continued at intervals until the following day. The noise was, in the first instance, almost universally attributed to distant cannon; so much so, that a detachment of troops were marched from Djocjocarta, in the expectation that a neighbouring post was attacked, and along the coast boats were in two instances dispatched in quest of a supposed ship in distress.

    Pendek kata si Raffles mendengar letusan gunung Tambora dari Yogyakarta! Dan dia menyangka bahwa post serdadu di sekitar wilayahnya ada yang diserang! Ini bukti bahwa suara ledakan gunung Tambora sangat kuat!

    Sir Thomas Stanford Raffles’ memoirs courtesy of Wikipedia

  • conandole // Oktober 26, 2007 pada 2:48 pm | Balas

    wah mas yari ternyata tau banyak soal tambora juga ya….memang hebat….

    terimakasih atas tambahan infonya mas…:-)

  • benbego // Oktober 26, 2007 pada 8:04 pm | Balas

    hebat juga tambora sampe bikin resah amerika! salam.

  • Black_Claw // Oktober 26, 2007 pada 10:16 pm | Balas

    As ekspektet from pak Yari…
    *merinding dan bakar menyan*

  • ardianzzz // November 4, 2007 pada 3:52 pm | Balas

    Merapi! Ayo munggah Merapi!

  • angga // November 9, 2007 pada 9:58 am | Balas

    mendengar cerita tentang gunung tambora tentu sangat mengejutkan
    bagaimana ALLOH menciptakan gunung beserta isinya luluh lantah dalam sekejab atas kuasanya harusnya kita patut bersyukur karna kita di lahirkan dan di ciptakan tidak pada masa itu.
    namun yang terjadi saat2 ini perilaku manusia yang sudah menyalahi aturan dan norma2 agama.
    dan yang lebih ditakutkan kalau ALLOH berkehendak gunung2 dan serta isinya diterbangkan seperti kapuk yang berterbangan.maka musnahlah isi dunia
    dan sebelum terlambat alangkah baiknya kita merenung dan berfikir.

  • conandole // November 16, 2007 pada 7:43 am | Balas

    @adrianzz : ayo…kapan munggah…?

    @angga : terimakasih kunjungan dan nasehatnya…..

  • yon illahi // Februari 8, 2008 pada 12:52 am | Balas

    situs tambora perlu lebih lebih sangat di perhatikan oleh pemerintah RI,khususnya pemda dompu,karna menyimpan sejarah yag telah mendunia,sangat sayang jika terus terabaikan,kasihan generasi muda tidak mengenal sejarah hebat yg pernah terjadi

  • yon illahi // Februari 8, 2008 pada 12:56 am | Balas

    seandainya situs tambora bisa terawat dengan baik, tidak menutup kemungkinan bisa menjadi aset wisata berkelas internasional,seperti museum pompei d italia,dan dapat menguk misteri dari 3 kerajaan yg musnah karna letusannya, saya harap situs tambora lebih di perhatikan

  • M.Dahlan Abubakar // Februari 22, 2008 pada 2:21 pm | Balas

    Saya hanya bertanya, adakah peringatan letusan G.Tambora digelar di Kabupaten Bima atau di Kecamatan Tambora sendiri? Jika, belum pernah dilaksanakan, mungkin ada baiknya, jadi kalender tahunan dan jadi ajang wisata. Sayang, musibah dahsyat seperti itu kita tidak renungkan dalam suatu upacara peringatan kecil. Paling tidak mengundang terus yang dapat memasukkan duit ke kocek PAD. Mulai Februari 2008 hingga April di Majalah ProFiles Makassar, saya menurunkan tulisan untuk memperingati 193 tahun letusan Tambora dengan berbagai sumber informasi tertulis dan foto dari beberapa website. Terima kasih kepada website tersebut yang telah saya manfaatkan untuk menyertai tulisan itu, sekaligus mempromosikan Tambora.
    Wassalam
    M.Dahlan Abubakar
    Makassar
    HP 0811448820

  • conandole // Februari 22, 2008 pada 5:50 pm | Balas

    semenjak saya lahir dan besar di dompu bima saya tidak pernah melihat adanya peringatan khusus. Menurut saya salah satu hal yang menyebabkan hal itu tdk terjadi adalah banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa letusan tambora itu sangat dahsyat apalagi letusan tsb tjd thn 1815 san dan mungkin banyak kakek buyut kita yang tidak pernah menurunkan berita tsb ke ank cucunya.

    terimakasih mas dahlan udah masuk ke blogini….

  • Endah RH // Mei 7, 2008 pada 2:53 pm | Balas

    Saat memandang kalderanya, terbayang besarnya letusan Gunung Tambora. Ah, jadi pengin ke sana lagi…!. Cuma sayang jalur menuju Dusun Pancasila rusak berat, jadinya kendaraan ajrut-ajrutan lewat jalur tersebut.

    Ditambah lagi kata temen yang belum lama ke sana, melihat tumpukan kayu hasil ilegal loging di beberapa titik. Huuh…, geramnya!. Bencana lain tinggal menunggu waktu jika ini tidak diberantas.

  • Roy // Juni 4, 2008 pada 11:30 pm | Balas

    Menarik..

  • once // Januari 13, 2009 pada 1:18 am | Balas

    tapi masih kalah sama letusan gunungnya magdalena

  • Taufiq // Maret 2, 2009 pada 8:05 pm | Balas

    Kami dari Padang Sumbar rencana mau ke Tambora, Kalau boleh tau apa aja pantangan dan hal kusus yang harus dipatuhi selama mendaki gunung ini mas? makasih..

  • RifkyPanzer™ // April 3, 2009 pada 5:43 am | Balas

    nice post bro !

  • RifkyPanzer™ // April 3, 2009 pada 5:44 am | Balas

    saya pernah menonton discovery mengenai letusan kedua gunung itu, nice info and keep update!

  • M.Dahlan Aubakar // Juni 12, 2009 pada 10:20 pm | Balas

    Terkait dengan kisah letusan G.Tambora, saat saya sedang menyusun sebuah buku yang menempatkan malapetaka itu sebagai salah satu bab khusus. Data selain diperoleh beberapa website dan blog, juga dari buku Spignesi, Chamberloir, dan beberapa referensi lain. Saya belum terbitkan sebelum saya sendiri memotret sendiri dari jarak dekat G.Tambora. Melalui Google earth, saya sering bertualang ke Tambora nyaris setiap minggu. Buku ini, bab I mengenai Bima masa lalu dan kini. Bab II tentang Kaitan historis Bugis-Makassar dengan Bima, dan Bab III tentang Tambora. Bab-bab ini masih terus mengalami pengayaan agar mendekati — meski mustahil — sempurna. Terima kasih kepada semua yang membaca ‘curhat’ ini, dan banyak terima kasih jika sudah memberi tambahan informasi.
    Wassalam

  • ahmad taufan // Agustus 11, 2009 pada 2:58 pm | Balas

    lkgknf;gjnso likhjtothl; hrp;ohkr;hm;tr

Tinggalkan sebuah Komentar