Memang sangat beruntung….!!!termasuk saya. Dan saya bersyukur karena masih bisa sekolah. Mungkin yang baca artikel ini juga saya sarankan untuk bersyukur kalau anda masih bisa sekolah dengan biaya orang tua.
Ini memang masalah klasik bahwa masih ada yang nggak bisa sekolah di negeri kita ini, tetapi walaupun merupakan masalah klasik, masalah ini belum terpecahkan hingga saat ini. ok..lah..sekarang saya tak akan menulis banyak kenapa?bagaimana?siapa yang bertanggungjawab? yang saya ceritakan sekarang, tentang pengalaman saya bertemu dengan seorang anak…itu saja.
Malam itu, udara dingin menusuk tulang rusuk ku yang memang kurus. Bengan EA ku yang sangat sangat setia dan ditemani oleh seorang teman, aku menyempatkan diri jalan-jalan diseputaran kota yang memang lagi ramai2nya. Asap kendaraan yang karena malam tidak kelihatan tapi dapat dirasakan betapa sumpeknya polusi yang di hibahkannya ke paru2 ku.
Disebuah perempatan terlihat seorang anak usia belasan, sambil menundukan kepala melintas diantara keramaian kendaraan yang berhenti mengadahkan tangan sedang meminta belas kasih. Tidak ada keahlian & tidak ada jasa yang dia tawarkan yang dia andalkan hanya kedua belah tangan yang seharusnya tidak lazim digunakan seperti itu menurut pendapat orang-orang strata menengah keatas. Wajahnya galau entah karena apa, atau karena siapa. Waktu bermain hanya bisa dilalui di perempatan, sendiri tanpa ada teman main.
Setelah beberapa saat, dengan sedikit memutar ke kiri EA ku dan aku mengistirahatkannya sebentar. Aku dan teman ku menghampiri anak tadi yang ternyata bernama Deni. Tujuannya sih cuma pengen ngobrol-ngobrol sanbil sedikit bercanda. Setelah sedikit basa-basi kecil2lan akhirnya obrolan kami agak sedikit mendalam tentang keluarga, sekolah, dllnya si deni.
Diatas saya sudah menghimbau, kalau anda masih sekolah & memakai duit orang tua, banyak-banyak lah bersyukur. Karena masih banyak saudara kita yang karena biaya sekolah, rela turun ke jalan untuk minta-minta. Contohnya si Deni.
Deni masih sekolah, SMP kelas 2, masuk 10 besar ranking di kelasnya, harus menepis “harga diri” yang selalu di banggakan oleh orang2 demi mendapatkan receh. Selepas sekolah, PR nya terlebih dahulu di selesaikan dan dengan perjalanan yang jauh dari rumah dia nongkrong di tepi perempatan untuk mendapatkan uang. Untuk nambah uang sekolah, untuk bantu orang tuan & mungkin juga untuk dia bagikan ke adeknya yang masih SD.
Keluarganya memang tergolong keluarga yang berpenghasilan rendah. Dia memilih berinisiatif mencari tambahan penghasilan dengan mengemis, melap motor yang lewat demi mempertahankan hidup, bertahan sekolah melanjutkan cita-cita yang mungkin dia sendiri ragu apakah cita2nya itu bisa di wujudkan atau tidak dengan kondisinya saat ini.
Jadi bersyukurlah yang masih bisa sekolah dengan tenang tanpa memikirkan biaya.